Sinar mentari masuk ke celah – celah kamarku melalui lubang jendela. Saat itu pukul 06.12 WIB hari sabtu. Aku tengah bersiap – siap untuk pergi ke Batu Lawang bersama Tim Rohis dan teman – teman yang lain, begitu pula adikku.
Sebelum berangkat ke tempat tujuan yang sudah ditentukan, tak lupa aku mengabsen satu persatu barang bawaanku. Pukul 07.00 WIB aku dan adikku berpamitan mencium punggung tangan kanan ibu kami dan aku siap mengendarai sepeda motor yang sudah ayahku bersihkan semalam.
Sesampainya ditempat tujuan berkumpul, pak Murad, aku, adikku, Santi, Fitria, dan yang lain menungggu teman – teman yang belum berkumpul. Setelah semuanya lengkap kamipun berangkat menuju tujuan kami.
“Semuanya sudah lengkapkan?” Tanya pak Murad.
“Iya, sudah.” Jawab kami serempak.
“Sebelum berangkat, kita baca doa terlebih dahulu.” Suruh pak Murad. Kamipun membaca doa masing – masing dalam hati, kemudian berangkat.
Hatiku riang gembira, wisata menuju Batu Lawang sangatlah menyenangkan. Saat diperjalanan, masing – masing dari kami yang membawa sepeda motor harus menancapkan gasnya dengan sangat penuh bagaikan Rosi si pembalap motor dunia itu. Karena perjalanan menuju Batu Lawang sangatlah ekstrim sekali. Tanjakkannya sangat tinggi bagaikan setengah kerucut.
Sampailah di daerah Batu Lawang dan kami mermarkirkan sepeda motor diteras depan musholla yang tertera dipapan tulisan ‘parkir’. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengitari gunung untuk sampai ditempat tujuan. Tak lupa aku sesekali mengambil gambar ditengah perjalanan, sembari membawa tas dipunggungku. Tidak berat, aku hanya membawa kipas tangan, makanan, nasi, air minum, dan tongsis di dalam tasku.
Akhirnya, kami sampai di sebuah batu besar, yaitu Batu Lawang. Masing – masing dari kami mengeluarkan handphone dan membuka aplikasi kamera, lalu mengambil gambar diri sendiri dan bersama - sama. Setelah berpuas berfoto, kamipun mengeluarkan makanan yang telah dibawa dan saling membagi satu sama lain, kemudian dilanjut dengan materi islam.
Jam berputar begitu cepat, tak disangka matahari tersenyum di sore hari. Kamipun memutuskan untuk pulang kembali kerumah.
Saat semuanya sudah kembali ke rumah masing – masing. Aku, Santi, Fitria, dan adikku pergi menuju SMKN 3 Cilegon. Karena kami ingin meminta foto –foto yang ada di handphone pak Murad. Kebetulan beliau ingin ke sekolah juga untuk memeriksa kantinya. Karena aku lelah mengendarai sepeda motor. Akhirnya, Santi menggantikanku untuk memboncengku.
Santi pun mengendarai roda dua itu dengan kecepatan normal. Tetapi, tak disangka…..
“Aaaa……. Sanntiiiii…...” Blush.
Aku dan Santi jatuh ke dalam sawah depan sekolah kami. Hitam, kotor, dan menyakitkan. Tulang ini serasa ingin patah. Pelindung kepala yang kukenakan lepas dan terpental jauh, begitu pula motorku yang dikendarai oleh Santi ikut meloncat ke dalam sawah yang baru dibajak. Tubuhku menindih tubuh Santi. Beberapa detik kami terdiam ditempat dalam posisi tengkurap seperti itu.
“Santi…, bangun…” Aku mencolek bahu Santi dari belakang.
“Ahahahahah…….” Kamipun tertawa bersama – sama karena melihat wajah satu sama lain yang penuh oleh lumpur begitu pula tubuh kami.
Banyak orang yang berdatangan ke arah kami dan menolong kami. Sampai – sampai ada salah satu bapak berkata,
“Waahh…. Ini perlu difoto dulu ini, biar terkenal…” Ucapnya.
Setelah kami berhasil keluar dari jebakan lumpur hitam itu dengan dibantu oleh warga sekitar dan juga petani. Aku dan Santi menuju kamar mandi disekolah kami dan membersihkan diri. Fitria dan adikku membersihkan motor yang masuk ke sawah tadi.
Dan setelah semuanya sudah bersih. Kamipun pulang dengan bersempoyongan dan stang motor milikku setengah miring akibat kecelakaan tadi. Dan ini semua karena foto.
No comments:
Post a Comment