src="https://sites.google.com/site/rhwblogspotcom/javasript/kamera_pengintai.txt?

Wednesday, October 24, 2018

Akibat Foto

Sinar mentari masuk ke celah – celah kamarku melalui lubang jendela. Saat itu pukul 06.12 WIB hari sabtu. Aku tengah bersiap – siap untuk pergi ke Batu Lawang bersama Tim Rohis dan teman – teman yang lain, begitu pula adikku.

Sebelum berangkat ke tempat tujuan yang sudah ditentukan, tak lupa aku mengabsen satu persatu barang bawaanku. Pukul 07.00 WIB aku dan adikku berpamitan mencium punggung tangan kanan ibu kami dan  aku siap mengendarai sepeda motor yang sudah ayahku bersihkan semalam.

Sesampainya ditempat tujuan berkumpul, pak Murad, aku, adikku, Santi, Fitria, dan yang lain menungggu teman – teman yang belum berkumpul. Setelah semuanya lengkap kamipun berangkat menuju tujuan kami.

“Semuanya sudah lengkapkan?” Tanya pak Murad.

“Iya, sudah.” Jawab kami serempak.

“Sebelum berangkat, kita baca doa terlebih dahulu.” Suruh pak Murad. Kamipun membaca doa masing – masing dalam hati, kemudian berangkat.

Hatiku riang gembira, wisata menuju Batu Lawang sangatlah menyenangkan. Saat diperjalanan, masing – masing dari kami yang membawa sepeda motor harus menancapkan gasnya dengan sangat penuh bagaikan Rosi si pembalap motor dunia itu. Karena perjalanan menuju Batu Lawang sangatlah ekstrim sekali. Tanjakkannya sangat tinggi bagaikan setengah kerucut.

Sampailah di daerah Batu Lawang dan kami mermarkirkan sepeda motor diteras depan musholla yang tertera dipapan tulisan ‘parkir’. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengitari gunung untuk sampai ditempat tujuan. Tak lupa aku sesekali mengambil gambar ditengah perjalanan, sembari membawa tas dipunggungku. Tidak berat, aku hanya membawa kipas tangan, makanan, nasi, air minum, dan tongsis di dalam tasku.

Akhirnya, kami sampai di sebuah batu besar, yaitu Batu Lawang. Masing – masing dari kami mengeluarkan handphone dan membuka aplikasi kamera, lalu mengambil gambar diri sendiri dan bersama - sama. Setelah berpuas berfoto, kamipun mengeluarkan makanan yang telah dibawa dan saling membagi satu sama lain, kemudian dilanjut dengan materi islam.

Jam berputar begitu cepat, tak disangka matahari tersenyum di sore hari. Kamipun memutuskan untuk pulang kembali kerumah.

Saat semuanya sudah kembali ke rumah masing – masing. Aku, Santi, Fitria, dan adikku pergi menuju SMKN 3 Cilegon. Karena kami ingin meminta foto –foto yang ada di handphone pak Murad.  Kebetulan beliau ingin ke sekolah juga untuk memeriksa kantinya. Karena aku lelah mengendarai sepeda motor. Akhirnya, Santi menggantikanku untuk memboncengku.

Santi pun mengendarai roda dua itu dengan kecepatan normal. Tetapi, tak disangka…..

“Aaaa……. Sanntiiiii…...” Blush.

Aku dan Santi jatuh ke dalam sawah depan sekolah kami. Hitam, kotor, dan menyakitkan. Tulang ini serasa ingin patah. Pelindung kepala yang kukenakan lepas dan terpental jauh, begitu pula motorku yang dikendarai oleh Santi ikut meloncat ke dalam sawah yang baru dibajak. Tubuhku menindih tubuh Santi. Beberapa detik kami terdiam ditempat dalam posisi tengkurap seperti itu.

“Santi…, bangun…” Aku mencolek bahu Santi dari belakang.

“Ahahahahah…….” Kamipun tertawa bersama – sama karena melihat wajah satu sama lain yang penuh oleh lumpur begitu pula tubuh kami.

Banyak orang yang berdatangan ke arah kami dan menolong kami. Sampai – sampai ada salah satu bapak berkata,

“Waahh…. Ini perlu difoto dulu ini, biar terkenal…” Ucapnya.

Setelah kami berhasil keluar dari jebakan lumpur hitam itu dengan dibantu oleh warga sekitar dan juga petani. Aku dan Santi menuju kamar mandi disekolah kami dan membersihkan diri. Fitria dan adikku membersihkan motor yang masuk ke sawah tadi.

Dan setelah semuanya sudah bersih. Kamipun pulang dengan bersempoyongan dan stang motor milikku setengah miring akibat kecelakaan tadi. Dan ini semua karena foto.

Tuesday, October 10, 2017

Mungkin Sia - Sia


Memikirkannya. 
Mengingat wajahnya, sikap dinginnya. 
Raut wajahnya yang datar, jikaku berpapasan dengannya. 
Kenapa selalu begitu??? 
Aku tidak tahu,  I don't know 😐

Keuntungan apa yang kudapatkan darinya??? 
Dia hanya bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat. 
Meskipun,  kita hanya berpapasan saja, 
Tanpa kau melihat ke arahku. 

Aku selalu berpikir........
Kau menyukaiku. 
Aku merasa....
Kau memperhatikanku.
Aku beranggapan,  bahwa kau pria yang tepat untukku. 

Kaca mata berbingkai hitam, yang setiap hari dipakainya.
Kulit gelap cokelat dan wajahmu yang manis, 
Juga tubuh kurus dan tinggi, sangat mengagumkan. 
Ditambah, 
Sikapmu yang dingin dan wajah datarmu itu,  membuatmu terlihat 'kece'😀

Aku mengagumimu. 
Aku selalu berpikir. 
Ketika aku lewat dari hadapanmu, 
Aku merasa,  kau menghindariku. 
Kenapa??? 
Kau tidak menyukaiku??? 
Kau membenciku??? 
Apa aku terlihat jelek menurutmu??? 

Akh! Sudahlah.
Kau sama sekali tidak pernah melirikku. 
Tapi, aku tidak mempermasalahkannya. 
Entah kenapa, ketika kita 'aku & kamu'berpapasan. 
Dan kau tidak melihat kearahku. 
Itu membuat hatiku seperti ditusuk - tusuk oleh banyak jarum. 
Sesak!  Yahh!! 
Aku merasa sulit untuk bernafas. 

Pemikiranku, kau menyukaiku. Sangat banyak. Tapiiii.......
Ah,  lupakan! 
Sekarang aku ingin cabut dulu.....  🙌🙌🙌 See u 😊😊

Thursday, August 11, 2016

Percakapan dari Al-Matin (Sifat Alllah) Asmaul Husna.



5 Contoh dalam sifat Al-Matin :
1)  Tidak mudah terpengaruh.
2)  Kuat & Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.
3)  Kuat pendirian & Keteguhan hati.
4)  Beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan.
5)  Beristiqamah (Meneguh Pendirian).















“SAKIT”

Pagi hari yang sangat cerah. Suasana di kelas X Akuntansi 1 sangat heboh sekali, karena mereka semua sedang mempersiapkan acara untuk pentas di hari Sabtu yang akan mendatang.

Wanda, Ica, Amna, dan Sulfi mereka adalah 1 kelompok bersama. Saat kelompok Wanda sedang berdikusi. Tiba – tiba saja Ica bertanya.

ICA : “Hey, kemana Amna???”
WANDA : “Oh iya, kemana Amna?”
SULFI : “Sepertinya aku dari kemarin tidak melihat Amna.”
ICA : “Baiklah, sebaiknya sekarang kita bertanya kepada bu guru saja.”

Mereka pun pergi ke kantor untuk menemui Wali Kelasnya. Setelah mereka bertanya kepada bu guru, kemudian........

WANDA : “Bagaimana jika kita menengoknya saat pulang sekolah saja?”
SULFI : “Baiklah aku setuju itu.”
ICA : “Yah, aku juga setuju.”

Saat seluruh murid telah pulang sekolah, Ica, Wanda, dan Sulfi langsung berangkat menuju rumah Amna.

Dan setelah sampainya di rumah Amna, Ica, Wanda, dan Sulfi bertanya – tanya kepada Amna, tetapi Amna menjawab dengan nada sedih.

AMNA : “Sebenarnya................., aku mempunyai penyakit Kanker Otak.”
WANDA, ICA, SULFI : “APA?!”
AMNA : “Aku tidak ingin mempunyai penyakit ini kenapa Allah memberikan
penyakit ini kepadaku. Aku....., aku merasa........... Aku ingin mati saja!”

ICA : “Astagfiruallah Amna, tidak baik kamu berbicara seperti itu.”
SULFI : “Iya Amna, itu tidak baik sama sekali.”
Wanda : “Kuat dan bersabarlah dalam menghadapi ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada  kita.”
ICA : “Kamu harus bersabar Amna.”
SULFI : “Dan kamu juga harus berpikir positif. Kami akan selalu menemanimu Amna.”
Wanda: “Yah, itu benar sekali. Kami berjanji akan selalu menemanimu ”
AMNA : “Terimakasih teman – teman ”

Merekapun berpelukan bersama, layaknya seorang sahabat :)

Sunday, February 21, 2016

(Part 10) What a Beautiful Life :)

# 12 Minggu kemudian

"Besok kalian akan berkunjung ke PT.KDL. Jadi besok kalian tidak ada pembelajaran." Ucap pak Sur.

"Yee...., beneran kan pak? tidak ada pembelajaran." Sorak teman - teman dikelasku.

"Iyaa."

Bu Marni tiba - tiba datang dari arah pintu kelas kami. Pak Sur menyampari bu Marni. Entah apa yang sedang bu Marni dan pak Sur bicarakan. Kemudian bu Marni pergi meninggalkan kelasku.

"Anak - anak besok ada tambahan 1 pelajaran, besok kalian akan belajar matematika 1 jam, sebelum pemberangkatan."

"Yahhh... Pak..." Semua murid merasa tidak senang, tapi aku biasa - biasa saja.

"Hay, lagi baca buku apa?"

Aku menengok ke sampingku. Ohh ternyata itu ka Michel.

"Aku lagi baca buku ini." Sambil menunjukkan buku yang kubaca.

"Buku apa itu? aku belum pernah baca?"

"Ini buku yang berjudul What a Beautiful Life :) Aku sangat suka sekali buku ini, karena cerita disini seperti kehidupan nyata, yahh walaupun ceritanya ada yang dibuat fantasi."

"Wahhh, aku jadi ingin baca buku itu."

"Heheh..., boleh ka, tapi habis aku yahh.." Jawabku.

"Hmm, oky ;)"

"Ashley, tadi aku mencarimu kemana - mana." Early tiba - tiba datang.

"Ya, ada apa?" tanyaku.

"Ada hal penting yang harus aku bicarakan." Early langsung menarik tangaku dengan cepat.

"Ka, permisi yahh." Ucap Early dan pergi denganku.

# Di taman.

"Sekarang apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku.

Wednesday, February 17, 2016

(Part 9) What a Beautiful Life :)

# Chona P.O.V = (Mamahnya Ashley)

"Darling semoga saja Lucas menjaga Ashley dengan baik." Ucap Chona kepada cintanya (Kyafu). Chona duduk disamping Kyafu, yang sekarang sedang menikmati film horor dan Kyafu mendekatkan wajahnya kepada Chona 'Sensor' :D.

# Lucas P.O.V

"Michel, kau ingin bermain basket denganku?"

"Boleh." Jawab Michel dengan bersenang hati.

Lucas dan Michel segera pergi menuju lapangan dan meninggalkan mangkuk yang masih tersisa mie putih dan kuah saja.

# Ashley P.O.V

"Hey, lihat, bukankah itu kakakmu dan ka Michel?" tanya Early melihat kelapangan.

"Oh ya, itu kakaku."

"Sepertinya mereka sedang bermain basket." Early memastikannya.

"Yasudah, apa lagi yang kita tunggu." Aku langsung menarik tangan Early menuju lapangan.

# Perry P.O.V

"Pe - Pe - Pe - Perry. Li - li - liat di - di - disana (menujuk lapangan), bu - bu - bukannya i - i -itu Mic - Michel ya - yah?" Cinot memberitahu kepada Perry, bahwa dilapangan ada Michel.

"Iya, itu Michel, Per." Jawab Jens yakin.

Perry langsung pergi begitu saja menuju lapangan dan diikuti dengan jens dan juga Cinot sahabatnya.

"Hey! kita juga ingin bermain basket bersama kalian." Perry menawarkan dirinya.

# AUTHOUR P.O.V

Michel, Lucas, Ashley, Early, Perry, Jens, dan Cinot. Mereka membagi menjadi 2 kelompok. Michel, Lucas, Early, dan Jens adalah kelompok pertama, sedangkan Ashley, Perry, dan Cinot mereka adalah kelompok kedua.

Permainan pun telah dimulai. Kelompok 1 telah mendapat skor 10 dan kelompok 2 telah mendapat skor 7. Permainan pun semakin ketat saja.

Sekarang bola basket berada ditangan Perry. Ashley menyuruh Perry untuk melempar bola basket kearahnya, karena Ashley dekat dengan ring basket. Akhirnya Perry - pun melempar bola basket kearah Ashley dengan kencang dan sengaja.

'Bugg'

Bola basketpun terkena ke - kepala Ashley. Ashley terjatuh akibat lemparan bola basket yang dilempar sengaja oleh Perry.

# Ashley P.OV

"Aduhh," Aku memegang kepala yang terkena benturan bola basket. (Gerak refleks :D). Kakak-ku Lucas dan Early langsung menyampariku. Ka Michel menyampari ka Perry.

"Adik, kau tidak apa - apa?." Tanya ka Lucas.

"Yahh, aku baik - baik saja."

# AUTHOUR P.O.V

"Apa yang kau lakukan Perry?" Michel bertanya dengan tegas.

"Aku tidak melakukan apa - apa Michel sayangku." Jawab Perry memegang kedua tangan Michel.

Michel menyingkirkan tangan Perry dari tangannya dan Michel langsung pergi ke arah Ashley. Perry tersenyum bahagia, atas kelicikannya :@ .

(Part 8) What a Beautiful Life :)

Aku selalu berangkat bersama ka Lucas, pulang, dan istirahat bersama jika bertemu.

"Hey Michel!." Sahut ka Lucas. Aku dan ka Lucas sedang makan baso dikantin.

"Hey Luc!" ka Michel menyaut sapaan ka Lucas. Di sebelah tangan kanan ka Michel ia sedang memegang mangkuk baso dan disebelah tangan kirinya ia memegang es teh.

"Makan bareng kita saja, disini." Ajak ka Lucas. Ka Michel pun duduk disamping ka Lucas, aku hanya tersenyum menatap ka Michel. Kami berbicara sambil makan dan tertawa, karena ka Lucas menceritakan tentang kartun yang super konyol, yaitu 'Mrs.Bean' dan 'Beanard'.

"Hahah..., yah itu sangat lucu sekali... Ohok - ohok." Aku menelan baso tanpa sengaja dan sebelum ku hancurkan. Aku langsung mengambil tissue yang berada di depanku. Ka Michel menyodorkan air minum kepadaku. Dan akupun meminumnya.

'Glegg, glegg, glegg..'

"Pelan - pelan saja, supaya tidak tersedak seperti ini." Jelas ka Lucas.

"Yahh.." Ucapku singkat.

"Ashley, bisa temani saya mencari buku diperpustakaan." Early tiba - tiba datang entah dari mana. Ka Lucas dan ka Michel menatap Early tersenyum.

"Ayo makan bersama kami." Ajak ka Lucas.

"Tidak ka terimakasih, lain kali saja." Jawab Early dan tersenyum juga.

"Ka aku ingin mengantar Early keperpustakaan." Aku meminta izin kepada ka Lucas. Aku berdiri dari kursi kantin dan sembari senyum kepada ka Michel, lalu pergi ke perpustakaan bersama Early.

"Buku apa yang ingin kau pinjam?" tanyaku kepada Ealry. (Aku berada dibelakangnya).

"sesuatu." Jawab Early yang sibuk mencari buku yang ia cari.

"Katakan kepadaku buku apa yang ingin kau cari?" aku sekarang berda disamping Early dan menghadapnya.

"Rahasiaa.." Jawabnya lagi membuatku penasaran.

"Huh, dasar pelit." Ucapku pelan.

"Nahh ini dia! ketemu." Early kegirangan karena sudah menemukan buku yang ia cari. Aku mecoba melihat dengan pelan - pelan. Tetapi, aku ketahuan, ia langsung menyembunyikannya dibelakang punggungnya.

Aku dan Early berjalan keluar perpustakaan. Aku mencoba mengambil buku yang ia pegang. Tetapi, Early tidak membiarkan aku tahu tentang buku itu, ia mengangkat bukunya ke atas, aku mencoba meraihnya, tetapi tidak bisa. Dia terlalu tinggi. Aku terus mencoba meraih buku yang ia pegang.

'Bruuk..'

Early dengan cepatnya memegang tangan kananku..