"Huft.., perasaanku tadi sudah tidak enak." Ucapku lega, serasa tidak ada apa - apa.
"Hm makannya jadi orang itu harus berfikir positif, jangan negatif mulu.." Ucap kakak, sembari membuat rambutku berantakan sedikit. "Sudah, ayo masuk mobil." Ajaknya dan berjalan menuju mobil.
Hahah... Dasar polisi aneh! Beberapa menit kemudian... Akhirnya aku sudah sampai di sekolah. Aku mencium tangan kakak, itu tanda hormat kepada orang yang lebih tua. Lalu aku turun dari mobil, aku melihat semua orang yang berseragam berlari - lari, aku tidak tahu mereka berlari kearah mana, yang jelas...
'Tin.., tin, tin..'
Kakak mengklakson 3 kali, dia ingin memberitahuku, bahwa dia akan berangkat sekolah dan akupun tersenyum manis, sambil melambaikan tanganku ke arahnya.
Aku berjalan menuju mading yang besar, yang dimana anak sekolah dapat melihat informasi - informasi yang menarik, hmm... ataupun tidak menarik. Aku mencari namaku yang tertera dimading itu, hmm.. banyak sekali anak yang bersekolah disini. Yeah aku menemukan namaku, kelas ku berada di lantai 3. Huhh untuk menaruh ranselku aku harus menaiki tangga yang lumayan banyak.
"Eeitts, eits.., lo murid baru disekolah ini kan?" aku kaget tiba - tiba saja ada perempuan cantik, rambutnya terurai sepinggang dan ia tinggi melebihiku. Hmm..., pasti orang ini seniorku.
"Emm.., a - a -ku ingin, ma - masuk kelas." Jawabku gugup.
"Siapa yang menyuruh lo masuk ke kelas?!" Bentaknya, aku kaget karena seharusnya anak baru tidak harus dibentak - bentak seperti ini.
"Sekarang hari senin! dan waktunya untuk upacara! mengerti?" tanyanya lagi dan dia mengangkat alisnya. Ohh iyaa, aku hampir lupa hari ini kan hari senin, huhh dasar Ashley bodoh sekali kau ini, kebanyakan libur sihh!. jadi sampai - sampai kau lupa ini hari apa.
Aku permisi dan segera menuju lapangan, huhh..., pantas saja sebelum aku masuk mencari namaku yang tertera dimading, banyak sekali murid - murid berlari - lari. Akupun ikut berlari mengikuti arah mereka yang menuju ke arah lapangan. Aku menaruh ranselku dikursi putih depan kantor guru dan aku segera berlari dan baris kelapangan.
Satu setengah jan kemudian, upacara pun selesai. Guru - guru pergi meninggalkan lapangan dan masuk kekantornya.
"Semuanya boleh masuk ke kelas masing - masing, kecuali murid baru, karena akan melakukan observasi."
"Sepertinya aku pernah melihat perempuan itu. Hmm..., tapi siapa yahh?" pikirku.
Semua murid School International pun masuk ke kelasnya masing - masing. Kecuali, anggota osis tidak masuk ke kelasnya, karena anggota osis akan mengajari dan mengawasi murid baru.
"Perkenalkan, nama gue Perry Can't, kalian bisa panggil gue Perry. Gue anggota osis dan disamping gue adalah ketua osis, sekaligus pacar gue." Ucap anggota osis itu yang bernama ka Perry.
"Huuuhhhhh..." Sorak anggota osis yang lain.
"Syirik aja lo semua!" Perry memberi microfont ke ketua osis, sambil tersenyum manis. Hahah... :D
"Ohh iya, dia yang membentakku." Pikirku baru sadar. "Ohh, jadi dia namanyya Perry, hmm.."
"Yahh, perkenalkan saya ketua osis disekolah ini, nama saya Michel Perz, kalian bisa memanggil saya Michel. Semuanya apa kabar??" tanya ka Michel bergembira.
"Baik kaaa..." Jawabku dan murid lainnya serempak.
"Kalian semua akan lomba melukis!. Jadi lukisan yang indah dan bagus, pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan ingat tanpa nama."
"Horeeeee...." Aku dan yang lain merasa senang, karena kalau menang akan mendapatkan hadiah. Huh semoga saja aku menang.
"Tapi sebelum dimulai, kami akan memeriksa kalian. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut atau nameta. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut dan nametag, mana akan dihukum." Jelasnya
Hmm... Untung saja aku membawa topi kerucut dan nametag, jadi tidak akan dihukum. Huh senang rasanya.
"Hukumannya adalah meminum air kopi yang dicampur oleh 2 sendok makan garam, kalian mengerti?!" Jelasnya lagi.
"Mengerti kaa.."
Observasipun segera dimulai. Satu demi satu orang diperiksa oleh anggota osis dan ketu osis (baris). Aku melihat seorang laki - laki ada yang tidak membawa topi kerucutnya dan dia dipaksa oleh ka Perry untuk meminum kopi dicampur garam itu. Iiihh apa rasanya yahh.. Aku merasa geli dan jijik melihatnya meminum kopi itu.
"Selanjutnya...!"
"Hah? iya, iya.." Aku tidak mendengar, karena aku serius melihat lelaki itu.
"Kau membawa nametag?"
'Hahh...? Ya ampun kau tinggi.., keren..., putih.., dan ganteng sekali.. Ohh tuhan dia adalah ketua osis itu, yang bernama Michel.' Ucapku dalam hati.
"Heyy...! Kau mendengarku?"
"Ohh iya - iya aku membawanya."
"Mana?'
"Inii." Aku memberi tahu dan menunjuknya disebelah lengan kananku, tetapi masih dengan menatap wajahnya.
"Mana? tidak ada?! Ohh kau ingin mencoba membohongiku yahh..., hmm.."
Membohongi? Hmm... Aku melihat kelengan sebelah kananku.
"Iiiii...."
"Mana? tidak ada bukan?"
"Ta, tapiii aku sudah memakainya tadi" jawabku merasa heran.
"Tapi tidak ada!. Sudah kau akan mendapatkan hukuman. Pergi sekarang ke Perry untuk mendapatkan hukuman." Perintahnya dan menyuruhku untuk pergi ke Perry.
Aku melangkahnkan satu kaki ke depan dan tiba - tiba saja angin datang entah dari mana, aku memeramkan mataku, karena banyak pasir yang terbawa oleh angin, rambutku terbang kebelakang. Untung saja rambutku dam perempuan yang mengikuti observasi diikat dua, jadi tidak susah untuk menyisirnya. Aku berhenti melangkah.
Angin pun berhentidengan cepat. Pikirku itu hanya angin lewat saja. Tapi membuat rambutku sedikit berantakan. Aku kecewa, karena aku akan dihukum meminum kopi yang dicampur dengan garam. Uhh.. Pasti rasanya asin.
"Tunggu!" Perintah ka Michel, memegang tangan kiriku.Aku menghentikan langkah kakiku dan mundur satu langkah ke belakang.
"Ada apa ka?" Tanyaku heran.
Hahah... Dasar polisi aneh! Beberapa menit kemudian... Akhirnya aku sudah sampai di sekolah. Aku mencium tangan kakak, itu tanda hormat kepada orang yang lebih tua. Lalu aku turun dari mobil, aku melihat semua orang yang berseragam berlari - lari, aku tidak tahu mereka berlari kearah mana, yang jelas...
'Tin.., tin, tin..'
Kakak mengklakson 3 kali, dia ingin memberitahuku, bahwa dia akan berangkat sekolah dan akupun tersenyum manis, sambil melambaikan tanganku ke arahnya.
Aku berjalan menuju mading yang besar, yang dimana anak sekolah dapat melihat informasi - informasi yang menarik, hmm... ataupun tidak menarik. Aku mencari namaku yang tertera dimading itu, hmm.. banyak sekali anak yang bersekolah disini. Yeah aku menemukan namaku, kelas ku berada di lantai 3. Huhh untuk menaruh ranselku aku harus menaiki tangga yang lumayan banyak.
"Eeitts, eits.., lo murid baru disekolah ini kan?" aku kaget tiba - tiba saja ada perempuan cantik, rambutnya terurai sepinggang dan ia tinggi melebihiku. Hmm..., pasti orang ini seniorku.
"Emm.., a - a -ku ingin, ma - masuk kelas." Jawabku gugup.
"Siapa yang menyuruh lo masuk ke kelas?!" Bentaknya, aku kaget karena seharusnya anak baru tidak harus dibentak - bentak seperti ini.
"Sekarang hari senin! dan waktunya untuk upacara! mengerti?" tanyanya lagi dan dia mengangkat alisnya. Ohh iyaa, aku hampir lupa hari ini kan hari senin, huhh dasar Ashley bodoh sekali kau ini, kebanyakan libur sihh!. jadi sampai - sampai kau lupa ini hari apa.
Aku permisi dan segera menuju lapangan, huhh..., pantas saja sebelum aku masuk mencari namaku yang tertera dimading, banyak sekali murid - murid berlari - lari. Akupun ikut berlari mengikuti arah mereka yang menuju ke arah lapangan. Aku menaruh ranselku dikursi putih depan kantor guru dan aku segera berlari dan baris kelapangan.
Satu setengah jan kemudian, upacara pun selesai. Guru - guru pergi meninggalkan lapangan dan masuk kekantornya.
"Semuanya boleh masuk ke kelas masing - masing, kecuali murid baru, karena akan melakukan observasi."
"Sepertinya aku pernah melihat perempuan itu. Hmm..., tapi siapa yahh?" pikirku.
Semua murid School International pun masuk ke kelasnya masing - masing. Kecuali, anggota osis tidak masuk ke kelasnya, karena anggota osis akan mengajari dan mengawasi murid baru.
"Perkenalkan, nama gue Perry Can't, kalian bisa panggil gue Perry. Gue anggota osis dan disamping gue adalah ketua osis, sekaligus pacar gue." Ucap anggota osis itu yang bernama ka Perry.
"Huuuhhhhh..." Sorak anggota osis yang lain.
"Syirik aja lo semua!" Perry memberi microfont ke ketua osis, sambil tersenyum manis. Hahah... :D
"Ohh iya, dia yang membentakku." Pikirku baru sadar. "Ohh, jadi dia namanyya Perry, hmm.."
"Yahh, perkenalkan saya ketua osis disekolah ini, nama saya Michel Perz, kalian bisa memanggil saya Michel. Semuanya apa kabar??" tanya ka Michel bergembira.
"Baik kaaa..." Jawabku dan murid lainnya serempak.
"Kalian semua akan lomba melukis!. Jadi lukisan yang indah dan bagus, pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan ingat tanpa nama."
"Horeeeee...." Aku dan yang lain merasa senang, karena kalau menang akan mendapatkan hadiah. Huh semoga saja aku menang.
"Tapi sebelum dimulai, kami akan memeriksa kalian. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut atau nameta. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut dan nametag, mana akan dihukum." Jelasnya
Hmm... Untung saja aku membawa topi kerucut dan nametag, jadi tidak akan dihukum. Huh senang rasanya.
"Hukumannya adalah meminum air kopi yang dicampur oleh 2 sendok makan garam, kalian mengerti?!" Jelasnya lagi.
"Mengerti kaa.."
Observasipun segera dimulai. Satu demi satu orang diperiksa oleh anggota osis dan ketu osis (baris). Aku melihat seorang laki - laki ada yang tidak membawa topi kerucutnya dan dia dipaksa oleh ka Perry untuk meminum kopi dicampur garam itu. Iiihh apa rasanya yahh.. Aku merasa geli dan jijik melihatnya meminum kopi itu.
"Selanjutnya...!"
"Hah? iya, iya.." Aku tidak mendengar, karena aku serius melihat lelaki itu.
"Kau membawa nametag?"
'Hahh...? Ya ampun kau tinggi.., keren..., putih.., dan ganteng sekali.. Ohh tuhan dia adalah ketua osis itu, yang bernama Michel.' Ucapku dalam hati.
"Heyy...! Kau mendengarku?"
"Ohh iya - iya aku membawanya."
"Mana?'
"Inii." Aku memberi tahu dan menunjuknya disebelah lengan kananku, tetapi masih dengan menatap wajahnya.
"Mana? tidak ada?! Ohh kau ingin mencoba membohongiku yahh..., hmm.."
Membohongi? Hmm... Aku melihat kelengan sebelah kananku.
"Iiiii...."
"Mana? tidak ada bukan?"
"Ta, tapiii aku sudah memakainya tadi" jawabku merasa heran.
"Tapi tidak ada!. Sudah kau akan mendapatkan hukuman. Pergi sekarang ke Perry untuk mendapatkan hukuman." Perintahnya dan menyuruhku untuk pergi ke Perry.
Aku melangkahnkan satu kaki ke depan dan tiba - tiba saja angin datang entah dari mana, aku memeramkan mataku, karena banyak pasir yang terbawa oleh angin, rambutku terbang kebelakang. Untung saja rambutku dam perempuan yang mengikuti observasi diikat dua, jadi tidak susah untuk menyisirnya. Aku berhenti melangkah.
Angin pun berhentidengan cepat. Pikirku itu hanya angin lewat saja. Tapi membuat rambutku sedikit berantakan. Aku kecewa, karena aku akan dihukum meminum kopi yang dicampur dengan garam. Uhh.. Pasti rasanya asin.
"Tunggu!" Perintah ka Michel, memegang tangan kiriku.Aku menghentikan langkah kakiku dan mundur satu langkah ke belakang.
"Ada apa ka?" Tanyaku heran.
No comments:
Post a Comment