Untuk informasi lebih lanjut silahkan kilk disini
Monday, November 22, 2021
Wednesday, October 24, 2018
Akibat Foto
Sinar mentari masuk ke celah – celah kamarku melalui lubang jendela. Saat itu pukul 06.12 WIB hari sabtu. Aku tengah bersiap – siap untuk pergi ke Batu Lawang bersama Tim Rohis dan teman – teman yang lain, begitu pula adikku.
Sebelum berangkat ke tempat tujuan yang sudah ditentukan, tak lupa aku mengabsen satu persatu barang bawaanku. Pukul 07.00 WIB aku dan adikku berpamitan mencium punggung tangan kanan ibu kami dan aku siap mengendarai sepeda motor yang sudah ayahku bersihkan semalam.
Sesampainya ditempat tujuan berkumpul, pak Murad, aku, adikku, Santi, Fitria, dan yang lain menungggu teman – teman yang belum berkumpul. Setelah semuanya lengkap kamipun berangkat menuju tujuan kami.
“Semuanya sudah lengkapkan?” Tanya pak Murad.
“Iya, sudah.” Jawab kami serempak.
“Sebelum berangkat, kita baca doa terlebih dahulu.” Suruh pak Murad. Kamipun membaca doa masing – masing dalam hati, kemudian berangkat.
Hatiku riang gembira, wisata menuju Batu Lawang sangatlah menyenangkan. Saat diperjalanan, masing – masing dari kami yang membawa sepeda motor harus menancapkan gasnya dengan sangat penuh bagaikan Rosi si pembalap motor dunia itu. Karena perjalanan menuju Batu Lawang sangatlah ekstrim sekali. Tanjakkannya sangat tinggi bagaikan setengah kerucut.
Sampailah di daerah Batu Lawang dan kami mermarkirkan sepeda motor diteras depan musholla yang tertera dipapan tulisan ‘parkir’. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengitari gunung untuk sampai ditempat tujuan. Tak lupa aku sesekali mengambil gambar ditengah perjalanan, sembari membawa tas dipunggungku. Tidak berat, aku hanya membawa kipas tangan, makanan, nasi, air minum, dan tongsis di dalam tasku.
Akhirnya, kami sampai di sebuah batu besar, yaitu Batu Lawang. Masing – masing dari kami mengeluarkan handphone dan membuka aplikasi kamera, lalu mengambil gambar diri sendiri dan bersama - sama. Setelah berpuas berfoto, kamipun mengeluarkan makanan yang telah dibawa dan saling membagi satu sama lain, kemudian dilanjut dengan materi islam.
Jam berputar begitu cepat, tak disangka matahari tersenyum di sore hari. Kamipun memutuskan untuk pulang kembali kerumah.
Saat semuanya sudah kembali ke rumah masing – masing. Aku, Santi, Fitria, dan adikku pergi menuju SMKN 3 Cilegon. Karena kami ingin meminta foto –foto yang ada di handphone pak Murad. Kebetulan beliau ingin ke sekolah juga untuk memeriksa kantinya. Karena aku lelah mengendarai sepeda motor. Akhirnya, Santi menggantikanku untuk memboncengku.
Santi pun mengendarai roda dua itu dengan kecepatan normal. Tetapi, tak disangka…..
“Aaaa……. Sanntiiiii…...” Blush.
Aku dan Santi jatuh ke dalam sawah depan sekolah kami. Hitam, kotor, dan menyakitkan. Tulang ini serasa ingin patah. Pelindung kepala yang kukenakan lepas dan terpental jauh, begitu pula motorku yang dikendarai oleh Santi ikut meloncat ke dalam sawah yang baru dibajak. Tubuhku menindih tubuh Santi. Beberapa detik kami terdiam ditempat dalam posisi tengkurap seperti itu.
“Santi…, bangun…” Aku mencolek bahu Santi dari belakang.
“Ahahahahah…….” Kamipun tertawa bersama – sama karena melihat wajah satu sama lain yang penuh oleh lumpur begitu pula tubuh kami.
Banyak orang yang berdatangan ke arah kami dan menolong kami. Sampai – sampai ada salah satu bapak berkata,
“Waahh…. Ini perlu difoto dulu ini, biar terkenal…” Ucapnya.
Setelah kami berhasil keluar dari jebakan lumpur hitam itu dengan dibantu oleh warga sekitar dan juga petani. Aku dan Santi menuju kamar mandi disekolah kami dan membersihkan diri. Fitria dan adikku membersihkan motor yang masuk ke sawah tadi.
Dan setelah semuanya sudah bersih. Kamipun pulang dengan bersempoyongan dan stang motor milikku setengah miring akibat kecelakaan tadi. Dan ini semua karena foto.
Tuesday, October 10, 2017
Mungkin Sia - Sia
Thursday, August 11, 2016
Percakapan dari Al-Matin (Sifat Alllah) Asmaul Husna.
SULFI : “Sepertinya aku dari kemarin tidak melihat Amna.”
ICA : “Baiklah, sebaiknya sekarang kita bertanya kepada bu guru saja.”
Mereka pun pergi ke kantor untuk menemui Wali Kelasnya. Setelah mereka bertanya kepada bu guru, kemudian........
ICA : “Yah, aku juga setuju.”
Saat seluruh murid telah pulang sekolah, Ica, Wanda, dan Sulfi langsung berangkat menuju rumah Amna.
SULFI : “Iya Amna, itu tidak baik sama sekali.”
Wanda : “Kuat dan bersabarlah dalam menghadapi ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita.”
ICA : “Kamu harus bersabar Amna.”
SULFI : “Dan kamu juga harus berpikir positif. Kami akan selalu menemanimu Amna.”
Sunday, February 21, 2016
(Part 10) What a Beautiful Life :)
Bu Marni tiba - tiba datang dari arah pintu kelas kami. Pak Sur menyampari bu Marni. Entah apa yang sedang bu Marni dan pak Sur bicarakan. Kemudian bu Marni pergi meninggalkan kelasku.
"Anak - anak besok ada tambahan 1 pelajaran, besok kalian akan belajar matematika 1 jam, sebelum pemberangkatan."
"Yahhh... Pak..." Semua murid merasa tidak senang, tapi aku biasa - biasa saja.
"Hay, lagi baca buku apa?"
Aku menengok ke sampingku. Ohh ternyata itu ka Michel.
"Aku lagi baca buku ini." Sambil menunjukkan buku yang kubaca.
"Buku apa itu? aku belum pernah baca?"
"Ini buku yang berjudul What a Beautiful Life :) Aku sangat suka sekali buku ini, karena cerita disini seperti kehidupan nyata, yahh walaupun ceritanya ada yang dibuat fantasi."
"Wahhh, aku jadi ingin baca buku itu."
"Heheh..., boleh ka, tapi habis aku yahh.." Jawabku.
"Hmm, oky ;)"
"Ashley, tadi aku mencarimu kemana - mana." Early tiba - tiba datang.
"Ya, ada apa?" tanyaku.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan." Early langsung menarik tangaku dengan cepat.
"Ka, permisi yahh." Ucap Early dan pergi denganku.
Wednesday, February 17, 2016
(Part 9) What a Beautiful Life :)
(Part 8) What a Beautiful Life :)
Tuesday, February 16, 2016
(Part 7) What a Beautiful Life :)
Monday, February 15, 2016
(Part 6) What a Beautiful Life :)
(Part 5) What a Beautiful Life :)
Sunday, February 14, 2016
(Part 4) What a Beautiful Life :)
"Ka itu, ka Perry sepertinya melihat kearah sini saja." Aku melirik kearah ka Perry.
"sudah tidak usah dipkirkan." Jawab ka Michel singkat.
"Ya sudah, aku permisi ya ka."
"Ohh iya - iya silahkan."
Aku berjalan meninggalkan ka Michel dan dia melanjutkan tugasnya lagi. Aku melewati depan ka Perry seniorku. Ka Perry menatapku seperti tidak suka kepadaku.
"Jangan menjadi orang cantik deh didepan Michel!" Tatapnya sisnis. "Michel itu milik gue seorang!, bukan milik lo!" Ucap ka Perry sinis dan ia mendorong bahuku dengan bahunya.
Aku tidak peduli apa yang dia ucapkan. Aku berjalan menuju kursi putih yang dimana ranselku ditaruh di depan kantor guru. Aku mengambil botol air minum didalam tasku, karena tenggorokan ku kering. Aku duduk dikursi putih dan meminum 1 botol sampai habis.
Baru saja aku selesai dan sekarang sudah waktunya untuk lomba melukis. Umm, sudah lama aku tidak melukis lagi, terakhir kali aku melukis pemandangan yang indah saat liburan UN, tahun kemarin. Emm itu sangat mengasikkan. Tapi..., hari ini aku sedang tidak ingin melukis. Hmm, sudahlah aku harus tetap mengikuti lomba melukis itu, semoga saja aku menang.
"Kum - pul kum- pul!" Suara ka Perry terdengar ditelingaku. Kamipun segera berkumpul. Setelah murid baru berkumpul....
"Kalian boleh melukis apa saja yang kalian inginkan. Tetapiiii..., harus rapih, indah, menarik, dan bagus. Jika bagus lukisan kalian, maka kalian akan mendapatkan hadiah dari kami dan lukisan yang mendapat hadiah akan dipanjang dimading osis." Penjelasaan dari ka Perry.
Satu per satu, telah dibagikan alat melukis, berupa cat warna, kuas, dan kanvas. Kami memulai melukis, hmm..., aku bingung ingin melukis apa. 10 menit sudah berlalu, aku belum sama sekali melukis.
(Menepuk pundak-ku).
"Heeyy kau belum melukis?" aku melihat wajahnya, ternyata itu ka Michel seniorku sekaligus ketua Osis.
"Umm, belum ka aku bingung ingin melukis apa." Jawabku juga bingung.
"Apa yang terlintas dipikiran kamu sekarang?" tanya ka Michel.
"Emm....."
"Ya sudah, berpikir cepat. Semoga menang :)" Ka Michel memberi semangat kepadaku dan menepuk pundakku untuk kedua kalinya sebelum pergi.
"Ahaa, aku tahu apa yang harus aku lukis."
"Ahh, akhirnya selesai juga." Wajahnya terlintas dalam pikiranku, jadi aku melukisnya.
Matahari telah berganti menjadi bulan, awan putih kebiruan sudah berubah menjadi hitam, bintang pun mulai bermuncul. Aku termenung di depan jendela kamarku. Aku menopangkan daguku diatas genggaman tangan kananku.
"Hmm..., kira - kira aku menang gak yahhh?." Tanyaku sendiri.
"What's wrong beautiful?" tanya mamah, tiba - tiba masuk kedalam kamarku.
"Nothing mom." Jawabku. Aku melihat wajah mamah.
"kau sangat gelisah hari ini."
"Hmm..., tidak." Jawabku singkat.
"Ceritakan pada mamahmu ini, apa yang terjadi." Mamah penasaran kepadaku. Aku memberitahu kepada mamah, apa yang terjadi.
"Jadi seperti itu mom. Aku ingin sekali mendapatkan hadiah dari Osis yang disekolahku."
"Owhh, jadi seperti itu. Sudah mari kita turun kebawah untuk dinner with Family :)" Ajak mamamh, seolah -olah iya tidak mendengarkanku tadi.
Bulan telah tenggelam dan berubah menjadi matahari, bintang - bintangpun sudah tidak terlihat lagi, dan haripun sudah berganti.
"Okee, kita akan beritahu kepada kalian, siapa yang akan menang dan mendapatkan hadiah dari kami dan sekaligus lukisannya akan ditempel dimading Osis." Ucap ka Perry ditengah lapangan upacara bendera.
Aku merasa merinding, gemetar, jantungku berdetak cepat, dan tanganku mulai dingin. Aduuhh siapa yahh yang akan menang dan mendapatkan hadiah. Aku menutup mataku rapat - rapat.
"Lukisan ini sangat bagus, keren, dan bisa untuk menjadi kenang - kenangan disekolah ini. Lukisan ini akan saya buka hari ini juga, jadi siapa yang mempunyai lukisan ini harap maju kedepan dan mendapatkan hadiah dari Osis." Jelas ka Michel. Aku semakin menutup mataku rapat - rapat.
"Kalian penasaran dan ingin tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya?" tanya ka Michel dan semakin membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Yaaa kaa!." Jawab semua murid baru, kecuali aku.
"Baiklah, akan saya perlihatkan lukisan in sekarang. Tigaaa.... Duaaaaa... Saaa.... tu...!"
"Wow lukisan ini sangat keren!, gue sangat suka lukisan ini, karena lukisan ini sama persis dengan wajah pacar gue, yaitu Michel! I like it!." Puji ka Perry yang terdengar olehku.
"Hahhh??, ka Perry bilang lukisan wajah ka Michel? itu lukisanku." Ucapku meyakini dalam hati. Aku membuka mataku lebar - lebar dan melihat lukisan di depan mataku.
"Dipersilahkan untuk maju kedepan yang melukis seperti ini." Ajak ka Michel.
Aku berjalan menuju Osis untuk mendapatkan hadiah. Aku tidak percaya aku menang. Semua murid baru yang didepanku meberi jalan kepadaku. hahah..., aku seperti seorang Ratu di Kerajaan saja.
(Part 3) What a Beautiful Life :)
Hahah... Dasar polisi aneh! Beberapa menit kemudian... Akhirnya aku sudah sampai di sekolah. Aku mencium tangan kakak, itu tanda hormat kepada orang yang lebih tua. Lalu aku turun dari mobil, aku melihat semua orang yang berseragam berlari - lari, aku tidak tahu mereka berlari kearah mana, yang jelas...
'Tin.., tin, tin..'
Kakak mengklakson 3 kali, dia ingin memberitahuku, bahwa dia akan berangkat sekolah dan akupun tersenyum manis, sambil melambaikan tanganku ke arahnya.
Aku berjalan menuju mading yang besar, yang dimana anak sekolah dapat melihat informasi - informasi yang menarik, hmm... ataupun tidak menarik. Aku mencari namaku yang tertera dimading itu, hmm.. banyak sekali anak yang bersekolah disini. Yeah aku menemukan namaku, kelas ku berada di lantai 3. Huhh untuk menaruh ranselku aku harus menaiki tangga yang lumayan banyak.
"Eeitts, eits.., lo murid baru disekolah ini kan?" aku kaget tiba - tiba saja ada perempuan cantik, rambutnya terurai sepinggang dan ia tinggi melebihiku. Hmm..., pasti orang ini seniorku.
"Emm.., a - a -ku ingin, ma - masuk kelas." Jawabku gugup.
"Siapa yang menyuruh lo masuk ke kelas?!" Bentaknya, aku kaget karena seharusnya anak baru tidak harus dibentak - bentak seperti ini.
"Sekarang hari senin! dan waktunya untuk upacara! mengerti?" tanyanya lagi dan dia mengangkat alisnya. Ohh iyaa, aku hampir lupa hari ini kan hari senin, huhh dasar Ashley bodoh sekali kau ini, kebanyakan libur sihh!. jadi sampai - sampai kau lupa ini hari apa.
Aku permisi dan segera menuju lapangan, huhh..., pantas saja sebelum aku masuk mencari namaku yang tertera dimading, banyak sekali murid - murid berlari - lari. Akupun ikut berlari mengikuti arah mereka yang menuju ke arah lapangan. Aku menaruh ranselku dikursi putih depan kantor guru dan aku segera berlari dan baris kelapangan.
Satu setengah jan kemudian, upacara pun selesai. Guru - guru pergi meninggalkan lapangan dan masuk kekantornya.
"Semuanya boleh masuk ke kelas masing - masing, kecuali murid baru, karena akan melakukan observasi."
"Sepertinya aku pernah melihat perempuan itu. Hmm..., tapi siapa yahh?" pikirku.
Semua murid School International pun masuk ke kelasnya masing - masing. Kecuali, anggota osis tidak masuk ke kelasnya, karena anggota osis akan mengajari dan mengawasi murid baru.
"Perkenalkan, nama gue Perry Can't, kalian bisa panggil gue Perry. Gue anggota osis dan disamping gue adalah ketua osis, sekaligus pacar gue." Ucap anggota osis itu yang bernama ka Perry.
"Huuuhhhhh..." Sorak anggota osis yang lain.
"Syirik aja lo semua!" Perry memberi microfont ke ketua osis, sambil tersenyum manis. Hahah... :D
"Ohh iya, dia yang membentakku." Pikirku baru sadar. "Ohh, jadi dia namanyya Perry, hmm.."
"Yahh, perkenalkan saya ketua osis disekolah ini, nama saya Michel Perz, kalian bisa memanggil saya Michel. Semuanya apa kabar??" tanya ka Michel bergembira.
"Baik kaaa..." Jawabku dan murid lainnya serempak.
"Kalian semua akan lomba melukis!. Jadi lukisan yang indah dan bagus, pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan ingat tanpa nama."
"Horeeeee...." Aku dan yang lain merasa senang, karena kalau menang akan mendapatkan hadiah. Huh semoga saja aku menang.
"Tapi sebelum dimulai, kami akan memeriksa kalian. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut atau nameta. Jika ada yang tidak membawa topi kerucut dan nametag, mana akan dihukum." Jelasnya
Hmm... Untung saja aku membawa topi kerucut dan nametag, jadi tidak akan dihukum. Huh senang rasanya.
"Hukumannya adalah meminum air kopi yang dicampur oleh 2 sendok makan garam, kalian mengerti?!" Jelasnya lagi.
"Mengerti kaa.."
Observasipun segera dimulai. Satu demi satu orang diperiksa oleh anggota osis dan ketu osis (baris). Aku melihat seorang laki - laki ada yang tidak membawa topi kerucutnya dan dia dipaksa oleh ka Perry untuk meminum kopi dicampur garam itu. Iiihh apa rasanya yahh.. Aku merasa geli dan jijik melihatnya meminum kopi itu.
"Selanjutnya...!"
"Hah? iya, iya.." Aku tidak mendengar, karena aku serius melihat lelaki itu.
"Kau membawa nametag?"
'Hahh...? Ya ampun kau tinggi.., keren..., putih.., dan ganteng sekali.. Ohh tuhan dia adalah ketua osis itu, yang bernama Michel.' Ucapku dalam hati.
"Heyy...! Kau mendengarku?"
"Ohh iya - iya aku membawanya."
"Mana?'
"Inii." Aku memberi tahu dan menunjuknya disebelah lengan kananku, tetapi masih dengan menatap wajahnya.
"Mana? tidak ada?! Ohh kau ingin mencoba membohongiku yahh..., hmm.."
Membohongi? Hmm... Aku melihat kelengan sebelah kananku.
"Iiiii...."
"Mana? tidak ada bukan?"
"Ta, tapiii aku sudah memakainya tadi" jawabku merasa heran.
"Tapi tidak ada!. Sudah kau akan mendapatkan hukuman. Pergi sekarang ke Perry untuk mendapatkan hukuman." Perintahnya dan menyuruhku untuk pergi ke Perry.
Aku melangkahnkan satu kaki ke depan dan tiba - tiba saja angin datang entah dari mana, aku memeramkan mataku, karena banyak pasir yang terbawa oleh angin, rambutku terbang kebelakang. Untung saja rambutku dam perempuan yang mengikuti observasi diikat dua, jadi tidak susah untuk menyisirnya. Aku berhenti melangkah.
Angin pun berhentidengan cepat. Pikirku itu hanya angin lewat saja. Tapi membuat rambutku sedikit berantakan. Aku kecewa, karena aku akan dihukum meminum kopi yang dicampur dengan garam. Uhh.. Pasti rasanya asin.
"Tunggu!" Perintah ka Michel, memegang tangan kiriku.Aku menghentikan langkah kakiku dan mundur satu langkah ke belakang.
"Ada apa ka?" Tanyaku heran.
Saturday, February 13, 2016
(Part 2) What a Beautiful life :)
"Ayo kak cepat, aku sudah terlambat, hmm..., makasih yah kak untuk sandwichnya." Ucapku tersenyum sungging dan aku menarik - narik tangan kakak.
"Eittss, tunggu dulu.." Kakak melepaskan tanganku dari tangannya.
"Apa lagi kaa?"
"Kau, terlihat cantik hari ini." Puji kakak dan menggoda dan mencolek daguku. Aku menjadi malu heheh.. :D
'Tinn..., tinn, tin..'
Bunyi klakson mobil, membuatku kaget dan kakak sudah berada di dalam mobil bewarna putih itu. Aku berjalan menuju mobil putih itu, masuk kedalam mobil dan duduk manis sembari memakan sandwich, sedangkan kakak yang menyetir dengan cepat.
Aku masuk sekolah pukul 08.00 waktu Indonesia Barat dan sekarang sudah pukul 07.35 WIB. Mobil yang dikendarai oleh Lucas melaju dengan cepat serasa jantungku ingin lepas. Tidak disangka, ternyata dibelakang mobil kakak yang aku tumpangin ada 1 motor dan 2 orang polisi, yang sepertinya mengikuti mobil kakak. Aku dengan cepatnya memberitahu kakak dan mobil yang dikendarai kakakpun berhenti, polisi pun ikut berhenti.
Kedua polisi itu ,menyuruh kami keluar dari mobil dan kamipun keluar dari mobil. Jantungku mulai berdebar-debar dengan tak enak, aku berpikir pasti aku dan kakak akan ditilang, karena kakak mengendarai mobil dengan cepat. Polisi itu mengeluarkan kertas disakunya, sepertinya feelingku benar, kalau kami akan ditilang. Aku menatap kakak, kakak pun menatapku.
"Apa kalian mengenal orang ini?!." tanya kedua polisi itu, yang bernama Cam.
"Hahhh..???.." Aku kaget, ternyata pak polisi mengeluarkan poster dan ada tulisan CAPSLOCK yang bertulis.
'DI CARI'
Ternyata polisi itu sedang mencari anak kecil yang hilang. Polisi itu menyuruh untuk membuka bagasi mobil, lau kakak pun membuka bagasi mobil. Aku mengikui kakak dan kedua polisi itu dari belakang. Sesudah memeriksa bagasi tidak ada apa - apa, polisi itu mengucapkan.
"Maaf telah mengganggu kalian" dan mengucapkan terimakasih. Lalu 2 orang polisi itu pergi.
(Part 1) What a Beautiful Life :)
"Heheh..." Aku tertawa kecil, karena malu. Aku langsung masuk kedalam kamar mandi.